Syekh Yusuf di Negeri Ceylon

Usia Syeikh Yusuf 57 Tahun Diasingkan Ke Ceylon

Di tempat kediaman baru, berhentilah kehidupan politik beliau yang penuh pengalaman dan penderitaan itu. Tetapi dapatlah beliau kembali kepada pangkalan jiwa yang asal. Ilmu Tasauf! Apatah bagi usia telah lanjut. Bagi seorang Mukmin yang telah terlatih, semua corak hidup adalah bahagia belaka. Inilah kesempatan memperbanyak zikir, munajat, tafakkur, mengarang dan mengajar. Saat-saat yang penting bagi perkembangan jiwa beliau, di Ceylon inilah. Di sanalah beliau dapat menyusun pelajaran Tasawuf yang lebih mendalam dan mengarangnya.

Di dalam satu karangannya yang bernama "Safinat an Najaat" (Bahtera Kelepasan Terbuang), berkatalah beliau:

Amma ba'du, (adapun kemudian daripada itu), berkatalah penulis huruf-huruf ini, semoga Allah memberi bantuan dengan pertolongan-Nya dan dipelihara Allah kiranya dia dari awal sampai ke akhir. Tatkala taqdir Ilahi yang Azali telah menarik ubun-ubunku, dan kehendak Rabbani di zaman dahulu telah menghalauku, sehingga aku sampai ke negeri Ceylon, yaitu tempat turunnya Bapak kita Adam dari dalam sorga, yaitu pulau Serendib, tempat terbuang orang durhaka dan tempat lindung orang merantau, maka kuharapkanlah daripada Allah Yang Maha Mulia, supaya nasibku ini adalah sebagai penerima pusaka daripada Adam 'Alaihis Salam. Dan hal yang demikian tidaklah sukar bagi Tuhan. Sebab Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Dermawan dan Maha Memberi anugerah, dan Kurnia-Nya meliputi segala. Maka setelah beberapa lamanya, dapatlah saya berkumpul dengan teman-teman, dan hilanglah segala penghalang, sehingga akhirnya dapat berkumpul dengan seorang Alim Pandita yang bijaksana, yang mengumpulkan akan ilmu lahir dan ilmu batin, mengumpul akan segala budi pekerti yang baik dan sopan santun tinggi, temanku yang utama di antara segala sahabat pada jalan Allah, taulan yang sangat kucintai dalam menuntut inti-sari Ketuhanan, yang tidak cukup kata buat memujinya, yaitu Sidi dan Maulaya Syekh Abd Ma'an Ibrahim bin Mikhan.

Melihat kepada susun tulisan itu nyatalah bahwa tidak berapa lama sesampai di Ceylon dia telah dapat berhubungan dengan seorang Ulama Tasawuf yang lain, Syekh Ibrahim bin Mikhan berbangsa Hindustan. Bahasa Arab sebagai bahasa penghubung utama telah mempertautkan kedua orang Shufi itu. Maka Syekh Ibrahim bin Mikhan telah meminta kepada beliau supaya beliau mengarang sebuah risalah untuk memberikan pimpinan tentang kaifiat Tasawuf dan mencari Syekh yang mursyid.

Gambar Indah Islami - I Am Proud To Be A Muslim
Dalam kitab itu Syekh Yusuf menyatakan bahwa ilmu beliau tentang itu tidaklah dalam. Memang demikianlah kebiasaan tawadu' orang-orang yang disebutkan Ahlul-Lah, yang seorang mengatakan dirinya kurang daripada yang lain. Padahal kalau bukanlah martabat Syekh Yusuf lebih tinggi, niscaya tidaklah Syekh Hindustan itu akan meminta supaya dia mengarang buku demikian.

Rupanya setelah sampai di tempat pembuangan itu, selain daripada mengajar dan memimpin murid-muridnya sendiri yang sama-sama terbuang dengan dia, beliaupun mengajar pula orang lain yang didapatinya di Ceylon, dan berhubungan dengan Ulama-ulama Tasawuf yang ada di sana. Dan setelah jauh dari kampung halaman, teringatlah selalu tanah tumpah darah, padahal badan diri tidak dapat kembali ke sana lagi. Maka dikirimnyalah risalah-risalah itu kepada bekas muridnya yang ada di Makassar ataupun di Banten, dengan perantaraan orang-orang haji yang singgah di Ceylon seketika pulang dari Mekkah.

Karangannya itu disalin oleh murid-muridnya di Makassar, di antaranya oleh Jami'uddin bin Thalib Al Maqashari At Timi Al Khalwati, ialah.

1. At Tuhfatus Sailaniyah.

2. AI Hablu'l Warid.

3.Surat kiriman kepada Karaeng Abdulhamid Karunrung.

4. Tuhfatu' l Labib.

5. Safinat An Najat.

6. Zubdatu'l Asrar dan

7. Tuhfatur Rabbaniyah.

Besar kemungkinan bahwa ada pula risalat yang dikirimnya ke Banten, entah ada pula simpanan yang "dibungkus kain kuning" di Banten dan dikeramatkan, belumlah kita tahu.

Bila ada orang Makassar, Banten atau Aceh naik haji atau pulangnya, berhenti juga kapal mereka di Ceylon buat melengkapkan bekal berlayar, dan mereka perlukan juga singgah menghadap beliau, meminta berkat ilmunya dan memohon ijazah tharikatnya. Dan bukan orang kita saja muridnya, bahkan Muslim Hindustan pun telah datang belajar, sehingga masyhur pulalah nama beliau sampai ke dalam Kerajaan Hindustan sendiri. Nama beliau pun akhirnya terdengar juga oleh Kaisar Aurangaeb Alamgir (1659 -1707 M. --1609 -1119 H). Baginda pun terkenal seorang Sultan yang mencintai Ilmu Tasawuf dan hidup dalam kesederhanaan dan mempelajari kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Ghazali. Sangatlah besar perhatian baginda kepada Tuan Syekh, sehingga pernah diberinya peringatan kepada wakil Kompeni Belanda supaya kehormatan Pribadi Tuan Syekh itu dipelihara, sebab baginda sangat gelisah jika beliau terganggu dan terhina.

Share this

Averousy uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More info

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Averousy

Promoted Link: Nasyid Sponsored By: Gratis Template By: Habib