Syeikh Yusuf Tajul Khalwati Tuanta Salamaka

Kisah Perjalanan Hidup Syeikh Yusuf Dan Pengaruh Serta Jasa Syeikh Yusuf Terhadap Kemajuan Islam Nusantara, Asia Dan Dunia.

Sebutan lengkap Syeikh Yusuf adalah ASY SYEKH AL HAJJI YUSUF, ABU'L MAHASIN, HADIYATULLAH TAJU'L KHALWATI, AL MAQASHARI - Dilahirkan pada 8 Syawal 1036 (3 Juli 1626) meninggal dunia di tanah pembuangan Tanjung Pengharapan tanggal 23 Mei 1699.

Syeikh Yusuf Dikenang Pada Empat Negeri

Apabila sempat saudara melawat ke Sulawesi Selatan, kota Makassar (Jungpandang), lanjutkanlah berziarah ke Sungguminasa, 5 kilometer saja jauhnya dari kota Makassar. Membeloklah ke sebelah kiri, tidak jauh dari tepi jalan raya, akan saudara dapatilah sebuah makam. Di sana akan saudara lihat orang banyak berkumpul setiap hari. Masuklah ke dalam pekarangan makam itu. Meskipun perjalanan saudara ke dalam akan terhambat-hambat oleh banyak orang meminta sedekah, teruskan jugalah ke dalam. Di sana akan saudara lihat sebuah kuburan di sudut sebelah Utara, yang kedua batu nisannya telah berkilat-kilat karena selalu disiram dengan minyak. Walaupun tempat kuburan itu gelap, tidak banyak masuk cahaya matahari namun di dalamnya telah menjadi terang, karena selalu dipasangi lilin. Penuhlah di atas kuburan itu kembang bunga-rampai dan kelihatan beberapa orang lebai membaca doa dan orang-orang berganti-ganti masuk, laki-laki perempuan dan anak-anak. Semuanya datang menziarahi kuburan itu, menyampaikan hajat, memohon pengestu dan meminta berkat. Banyak pula orang yang masih berdiri di luar menunggu gilirannya, karena tidak termuat jika masuk berbanyak-banyak. Mereka itu datang dari seluruh pelosok tanah Bugis dan Makassar, sampai ke Selayar di sebelah Selatan dan Mandar di sebelah Utara, sampai juga ke Masenrenpulu yang telah dekat ke tanah Toraja.

Tempat itu ramai setiap hari, setiap masa. Silih berganti orang yang datang. 100 tahun yang lalu, orang datang ke sana dengan berkuda, sekarang datang dengan mobil, namun yang datang belum juga berkeputusan, sampai sekarang.

Dan apabila saudara melawat ke Afrika Selatan, ke kota Kapstad, akan saudara dapati pula sebuah kuburan yang seperti itu diziarahi orang. Sama pula ramainya, melakukan cara-cara menurut kepercayaan setempat.

Gambar Aku Bangga Sebagai Muslim
Dan apabila saudara melawat ke negeri Banten, ke kampung-kampung sekitar Tirtayasa, atau saudara bertanya kepada orang-orang Banten yang sangat cinta kepada sejarah kebesaran mereka di masa yang lampau, niscaya salah satu daripada ceritera sedih yang akan mereka kisahkan, ialah kisah Perang bapak dengan anak, di antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan puteranya Sultan Haji. Ayah perang karena mempertahankan kemerdekaan Banten, kebebasan agama dan adat istiadat, sedang si anak karena hasutan yang amat halus dari pihak Belanda.

Dalam ceritera itu niscaya akan mereka sebut "Kiyahi Besar" mereka, Guru dari Sultan mereka dan Muftinya, dan juga menantunya, Ulama yang besar dan agung. Syekh Yusuf Taju'l Khalwati.

Sekali niscaya melawat pula saudara ke dalam Republik Lanka, pulau Sailan, yang disebut di dalam Sejarah Lama orang Arab, pulau Serendib. Di sana akan saudara dapati pula masyarakat "Melayu”, satu masyarakat kecil (minoritas) dalam republik yang baru mencapai kemerdekaannya itu. Namanya "Masyarakat Melayu" menurut istilah lama atas seluruh bangsa kita di Indonesia dan Semenanjung, termasuk Sanggora, wilayah Siam sekarang. Mereka adalah keturunan pahlawan-pahlawan, bahkan ads keturunan raja-raja besar, yang dibuang karena kalah dalam mempertahankan tanah airnya dari jajahan Kompeni Belanda. Sampai sekarang, masih terdapat nama-nama Indonesia, seumpama Eaellencae Jaya Wardana, bekas Menteri pada Kabinet Ceylon dan pernah jadi Dutabesar Ceylon di Pakistan. Mungkin nama ini berasal dari keturunan keluarga buangan dari Jawa yang memakai nama "Joyowardhono".

Kepada orang Melayu Ceylon itu cobalah pula tanyakan, niscaya mereka akan menjawab dengan bersemangat, bahwa salah seorang nenek-moyang mereka Syekh Yusuf Taju'l Khalwati, yang telah meneguhkan urat tunggang Islam dalam jiwa mereka turun temurun, meskipun mereka hidup dalam negeri Budha. Niscaya orang Melayu Ceylon akan membuka bundel lama, bahwa Kaisar Hindustan Yang Mulia Aurangzeb Alamgir pernah meminta dengan sangat kepada Kompeni Belanda supaya orang tua itu dipelihara baik-baik, sebab kalau beliau tersinggung tentulah akan menggelisahkan hati Ummat Islam dalam negeri Hindustan.

Di kala penyusun riwayat ini menjadi Guru "Ibtidaiyah & Wustha Muhammadiyah di Makassar" (1932 -1934), banyaklah penyusun ini mendengar ceritera dari mulut ke mulut tentang kebesaran Syekh Yusuf, baik secara dongeng atau secara yang masuk akal dari sahabat penulis, seumpama Bapak Haji Nusu Daeng Manangkase, H. Sewa Daeng Muntu, demikian juga dari keturunan Melayu Makassar Incek Nuruddin Daeng Magassing Almarhum. Maka insaflah penulis akan kebesaran beliau. Tetapi setelah bertahun-tahun di belakang, dengan mempelajari dan membaca riwayat beliau seterusnya, terutama daripada catatan orang Belanda dan menurut riwayat dari mulut ke mulut dari orang tua-tua Banten, dan karangan kaum Muslimin Afrika Selatan tentang dirinya, bertambah tertariklah penyusun kepada pribadi besar itu.

Dalam tahun 1955 bersama-sama dengan saudara Nazaruddin Rakhmat, berkesempatanlah penyusun ziarah ke Goa. Di sana dapatlah sebuah buku yang sangat berharga yaitu kumpulan risalat-risalat Syekh Yusuf yang disimpan dengan sangat khusyu' di Goa, dipandang sebagai pusaka keramat. Setelah membaca buku ini, yang penuh berisi ajaran-ajaran beliau tentang Tasawuf, bertambahlah besarnya Syekh Yusuf dalam pandanganku. Yakni setelah dilepaskan Pribadi itu daripada "bungkusan" dongeng penduduk.

Artikel Syeikh Yususf Tajul Khalwati Tuanta Salamaka Lainnya:

Share this

Averousy uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More info

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Averousy

Promoted Link: Nasyid Sponsored By: Gratis Template By: Habib