Syeikh Yusuf Mempunyai Dua Kuburan

Kabar meninggal beliau segera disampaikan ke Ceylon, Banten dan Makassar. Diterima khabar itu di negeri-negeri tersebut dengan duka cita yang sangat. Maka atas desakan orang besar-besar dan Ulama-ulama Kerajaan Goa, Raja Goa meminta kepada pemerintah supaya jenazah Tuan Syekh itu dikirimkan ke tanah tumpah darahnya, supaya dikuburkan menurut upacara adat istiadat dan akan menjadi tempat makam ziarah bagi rakyat, karena pelajarannya kian lama kian tersiar. Oleh karena desakan itu, akhirnya Kompeni Belanda terpaksa mengabulkan juga, lalu dibawalah peti jenazah beliau dengan kapal dari Cape Town. Maka pada hari Jum' at tarikh 22 hari Bulan Zulqa'idah 1113 Hijriyah, bertepatan dengan 23 Mei 1703 Miladiyah dimakamkanlah jenazah beliau di Jongaya dengan serba kebesaran dan kekhusyukan.

Tetapi suatu kenyataan ialah bahwa makam beliau di Cape Town pun sampai sekarang masih berdiri dengan teguhnya, masih diziarahi dan dikeramatkan. Lebih bagus daripada di Jongaya. Disebut "Tuang Kramat". Oleh sebab itu tetaplah jadi pertikaian orang; kata setengah orang, hanyalah tanah pekuburannya saja yang dibawa ke Makassar. Kata setengah orang, memang tulang-tulangnya. Maka ada pula yang berkata bahwa yang dibawa itu adalah tulang orang lain: Sebab orang Islam di Cape Town tidak sudi memberikan. Maka tidaklah ada di antara orang yang berani menggali kedua kuburan itu buat meyakinkan di mana sebenarnya tulang itu, di Cape Town atau di Makassar. Sebab perubahan cara kita berfikir setelah faham Tauhid bertambah mendalam, tidaklah mempedulikan lagi "tulang-tulang" yang tidak memberi manfaat atau madarrat. Apatah lagi khayal indah masih mempengaruhi ummat yang awam. Dan sebagai seorang sufi, niscaya Syekh Yusuf memegang juga pendirian Jalaluddin Rumi yang berkata:

Janganlah dibuatkan untukku suatu makam. Hati orang yang beriman adalah tempat menjiarahiku.

Tetapi sungguhpun demikian, pengaruh kebesaran Syekh Yusuf sangatlah mendalam, baik di Makassar atau Sulawesi Selatan pada umumnya, demikian juga di kalangan kaum Muslimin Afrika Selatan.

Gambar Indah Islami - I Am Proud To Be A Muslim
Telah terbiasa bahwa nama seorang Alim Besar jarang disebut orang. Menyebut nama seorang Alim dipandang kurang hormat. Syekh Abdurrauf di Aceh disebut orang Aceh "Syekh di Kuala'. Di Minangkabau Syekh Ibrahim Musa disebut saja "Engku Syekh Parabek". Syekh Mohammad Jamil Jambek disebut saja "Engku Jambek ". Dr. Abdul Karim Amrullah disebut saja "Inyik Dr. "Tentu saja di zaman dahulu tradisi ini sangat dijaga orang. Maka di Bugis dan Makassar Syekh Yusuf disebutkan saja "Tuanta Salamaka" (Tuan kita yang membawa selamat). Di daerah Masenren Pulu (Enrekang, Kalosi, Rantepao dan lain-lain), disebutkan- "Pima Toma Oppue" (orang yang paling bahagia). Dan di Afrika Selatan disebut- "Tuang Kramat!"

Share this

Averousy uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More info

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Averousy

Promoted Link: Nasyid Sponsored By: Gratis Template By: Habib