Syeikh Yusuf Dipindahkan ke Tanjung Pengharapan

Susah juga Kompeni Belanda memikirkan orang tua ini! Dipindahkan ke Ceylon bukan menyebabkan dia hilang, melainkan bertambah timbul. Jarang orang haji yang pulang dari Mekkah yang tidak membawa bisik ajaran beliau. Padahal dengan turunnya Sultan Ageng Tirtayasa dari singgasana Banten, belumlah berarti bahwa politik Banten telah selesai. Sultan Haji hanya tiga tahun saja duduk di atas takhta Kerajaan. Pada tahun 1687 dia mangkat dalam tekanan batin yang amat sangat. Puteranya Abu' l Fadhal Muhammad Yahya hanya duduk di atas takhta tiga tahun pula (1687 - 1690). Pangeran Purbaya telah mengirim utusan kepada Kompeni menyatakan hendak menyerah, lalu dikirim si Untung Surapati menjadi utusan menemui Purbaya dan menerima penyerahan itu. Tetapi si Untung Surapati merasa dihina, sebab dikirim lagi seorang Opsir Belanda, karena kata Opsir itu Surapati tiada layak menerima keris Pangeran Purbaya alamat menyerah. Surapati pun merasa dihina dan belot, lalu berontak. Dan di tahun 1686 datang pula Raja Iskandar, Yang Dipertuan Minangkabau. Diadakannya hubungan rahasia dengan Sultan Aceh, Susuhunan Mataram, Raja Kalimantan dan Andalas Timur, supaya berserikat melawan Belanda dan meninggikan bersama semarak Islam. Yang Dipertuan itu mencoba mengancam kedudukan Belanda di Banten.

Terfikirlah oleh Belanda, bahwasanya salah satu sumber yang penting dari pergolakan ini bukanlah di Jawa atau Sumatera atau Sulawesi tempatnya, melainkan jauh di luar, yaitu di pulau Langkapuri. Pada diri orang tua yang hanya memegang tasbih dalam tangannya itu, tersimpan kekuatan yang lebih tajam daripada pedang.

Tiada jalan lain. Orang ini mesti disingkirkan lebih jauh lagi. Ke tempat yang tidak akan dapat didatangi oleh orang naik haji, ke daerah kekuasaan Belanda yang sebuah lagi, Tanjung Pengharapan.

Gambar Indah Islami - I Am Proud To Be A Muslim
Maka pada tahun 1694 dijalankanlah keputusan itu. Dan usia beliau seketika dipindahkan ke Cape Town itu ialah 68 tahun. Beliau dibuang ke sana bersama dengan kedua istrinya dan anak-anaknya, diiringkan oleh 94 orang pengiring dan murid. Dan politik terhadap dirinya diubah daripada yang dilakukan masa di Ceylon, yaitu tidak begitu dibesar-besarkan lagi. Gubernur Belanda di Cape Town ketika itu Adriaan van der Stel menentukan tempat tinggal beliau di desa pertanian Zandfliet.

Di sana pun telah ada orang Islam, tetapi jumlahnya masih kecil. Terdiri daripada orang-orang Arab, Hindustan dan lain-lain yang datang berniaga, ditambah dengan orang-orang Indonesia yang telah dibuang terlebih dahulu. Kedatangan beliaupun telah memberikan semangat kepada kaum Muslimin itu. Beliau langsung memberikan tuntunan agama bagi mereka, sampai masyarakat itu tersusun menjadi "jama'ah" yang beliau sebagai "Imam"nya. Empat murid diberinya didikan istimewa, dengan harapan akan menggantikannya esok, bila datang waktunya beliau dipanggil Tuhan ke hadirat-Nya.

Demikianlah, 5 tahun pula beliau berdiam di Tanjung Pengharapan itu, maka tibalah waktunya, panggilan Ilahi yang ditunggu oleh setiap yang bernyawa, datang kepada beliau. Maka pada tanggal 23 Mei 1699 wafatlah beliau di Eerste Rivier, Zandfliet, pertanian kepunyaan Paderi Galden, dalam usia 73 tahun.

Share this

Averousy uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More info

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Averousy

Promoted Link: Nasyid Sponsored By: Gratis Template By: Habib