Sejarah Asal dan Keilmuan Syeikh Yusuf

Masa Kelahiran Syeikh Yusuf

Dalam catatan orang Makassar Syekh Yusuf dilahirkan pada 8 Syawal 1036, bertepatan dengan 3 Juli 1926.

Dalam sejarah Bugis dan Makassar Agama Islam dipeluk dengan resmi oleh Kerajaan Goa dan Tallo ialah pada tahun 1603. Yang membawanya ialah tiga orang guru (Datu) dari Minangkabau. Datu Tiro, Datu Ri Bandang dan Datu Patimang.

Sebelum itu di Jungpandang (Makassar) sendiri sudah ads juga orang Islam, yaitu orang-orang yang menyingkirkan diri dari Malaka, setelah Malaka dirampas Portugis (1511). Dan sebelum itu dua agama telah mencoba hendak merebut hati raja-raja Goa dan Tallo, memeluk agama Kristen Katholik sebagai raja-raja di Flores dan Jailolo, atau memeluk Islam di bawah pimpinan Kerajaan Islam Ternate.

Tetapi raja-raja Goa dan Tallo tak mau memeluk Kristen sebab benci kepada Portugis, dan tak mau memeluk Islam dengan perantaraan Sultan Ternate, takut kalau-kalau negerinya kelak hanya menjadi vazal boneka saja dari Ternate. Tetapi setelah datang tiga orang guru dari Sumatera (Minangkabau) yang jauh itu, yang tidak menaruh maksud-maksud politik, dengan sukarela raja-raja Goa dan Tallo menerima Islam.

Maka dengan pimpinan ketiga guru besar itu, yang disebut juga Datu, artinya dukun sakti, raja-raja Goa dan Tallo dan orang-orang bangsawannya memeluk Islam dan memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Terutama Datu Tiro yang tinggal menetap di Goa Tallo dan Datu Patimang menyiarkan Islam ke bagian tanah Bugis dan Datu Ri Bandang melawat sampai juga ke Sumbawa dan Bima.

Dari keluarga bangsawan-bangsawan Goa dan Tallo itulah Muhammad Yusuf dilahirkan, 23 tahun setelah keluarga kerajaan dengan resmi memeluk Islam.

Dari kecil dia telah diajar hidup secara Islam, belajar Al Qur'an sampai khatam, kemudian melanjutkan mempelajari Fiqhi dan Ilmu Bahasa Arab (nahwu, sharaf, ma'ani dan lain-lain). Tetapi perhatiannya yang terutama tertumpah ialah kepada Ilmu Tasawuf.

Seketika itu Kerajaan Goa kian lama kian naik bersemarak, terutama di zaman pemerintahan Sultan Hasanuddin, dan ketika itu pula Kompeni Belanda mulai mengembangkan sayap penjajahan di Indonesia bagian Timur.

Pendidikan dan Keilmuan Syeikh Yusuf

Gambar Indah Islami - I Am Proud To Be A Muslim
Terasalah olehnya dan oleh guru-gurunya bahwa dia perlu melanjutkan menambah pengetahuan agama Islam ke luar negeri. Menemui Ulama besar-besar dan masyhur, di mana saja mereka berada dan pergi menunaikan rukun Islam kelima. Goa memerlukan seorang Ulama Besar yang kelak kemudian hari akan menjadi pemimpin keagamaan dalam seluruh negeri Bugis dan Makassar. Maka berangkatlah beliau meninggalkan pelabuhan Tallo pada tanggal 22 September tahun 1645, menumpang sebuah kapal dagang kepunyaan orang Portugis. Maka berlayarlah kapal itu menuju pelabuhan Banten.

Hubungan antara Makassar dengan Banten dan Aceh, sebagai Negara-negara Islam penangkis serangan Portugis dan Kompeni Belanda, sangatlah mesranya pada waktu itu. Syekh Yusuf di Banten tidak merasa dirinya orang lain. Malahan dia dihormati di Banten tersebab ilmu pengetahuannya. Waktu dia singgah itulah dia bersahabat dengan Putera Mahkota yang kelak akan menjadi Sultan Banten, yang kelak akan terkenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa.

Setelah beberapa lama di Banten, diteruskannyalah pelayaran menuju Aceh. Di sanalah dia menemui Ulama Besar Aceh pada waktu itu, yaitu Syekh Nuruddin Ar Raniri, pada zaman pemerintahan Ratu Taju'l Alam Shafiyatuddin Syah. Puteri Iskandar Muda, dan janda dari Almarhum Iskandar Tsani. Daripada Syekh itu dia mendapat ijazah dalam Tharikat Al Qariyah. Dari Aceh terus melayar menuju negeri Yaman. Dan diterimanya pula di sana ijazah Tharikat Naqsyabandayah daripada Syekh Abi 'Abdillah Muhammad Abdul Bagi. Kemudian dia terus ke Zubaid dalam negeri Yaman juga, dan diterimanya pula di sana ijazah Tharikat "Assadah Al Ba'alawiyah" daripada Sayid Ali.Dari sana dia pun meneruskan pelayaran ke Mekkah, menunaikan fardhu haji. Setelah selesai haji diteruskannya ziarah ke kuburan Rasulullah di Madinah Al Munawwarah. Di sana dia menuntut ilmu dan menerima ijazah Tharikat Syattariyah daripada Syekhnya, Syekh Burhanuddin Al Mulla bin Syekh Ibrahim bin al Husain bin Syihabuddin Al Kurdi Al Kaurani Madani. Dari Madinah dilanjutkannya perjalanannya ke negeri Syam (Damaskus). Di sanalah dia belajar dan mengambil ijazah pula tentang Tharikat "Khalawatiyah" daripada Syekhnya, Syekh Abu' l Barakat Ayub bin Ahmad bin Ayub Al Khalwati al Qurasyi. Syekh itu adalah Imam pada Mesjid Syekh Al Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi di Damaskus. Gurunya inilah yang memberinya gelar "Taju'l Khalwati Hadiyatullah" . Mungkin gelar itu diberikan setelah melihat kemajuan-kemajuan rohani yang telah dicapainya dalam melakukan suluk. Dan dalam risalatnya yang bernama "Safinat an Najaat" ditulisnya silsilah penerimaan tharikat itu satu demi satu. Sejak dari gurunya sampai ke atas, sampai kepada Rasulullah. Dan dikatakannya pula bahwa selain dari yang lima itu, diapun mempelajari tharikat "Dasuqsyah", "Syaziliyah", "Hasytiyah", "Rifa'iyah", "Al Idrusiyah", "Ahmadiyah", "Suhrawardiyah", "Maulawiyah", "Kubrawiyah", "Madariyah", "Makhdumiyah" dan lain-lain.

Tentang gurunya Syekh Nuruddin Ar Raniri di Aceh itu dia berkata:

Adapun Silsilah khilafat sadaat Al Qadiriyah, maka saya ambil daripada Syekh-ku dan sandaranku. Yang Alim lagi utama. Yang Arif lagi sempurna. Yang mengumpulkan Ilmu Syari'at dan hakikat, yang menyelidiki ma'rifat dan tharikat. Tuanku dan guruku, Syekh Muhammad Jailany yang lebih terkenal dengaa sebutan Syekh Nuruddin bin Hasanji bin Muhammad Hamid Al Qurasyi Ar Raniri. Semoga Tuhan mensucikan roh beliau dan memberi cahaya pusaranya.
Ada ceritera yang menerangkan bahwa perjalanan itu diteruskannya juga ke Istambul. Maka seketika pulang, dia telah menjadi guru yang besar.

Share this

Averousy uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More info

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Averousy

Promoted Link: Nasyid Sponsored By: Gratis Template By: Habib