Perkembangan Islam dan Pengaruh Syeikh Yusuf di Banten

Sampai di Banten didapatinya Sultan Ageng Tirtayasa telah naik takhta, menggantikan ayahnya Sultan Abul Ma'li Ahmad Rahmatullah. Gelar resmi Sultan Ageng Tirtayasa ialah Abu' l Fat' h Abdul Fattah (1651-1692).

Sangat terbuka fikirannya di tempat kediaman yang baru itu. Perhatian orang kepada agama pada masa itu, lebih mendalam di Banten daripada di Makassar. Dan meskipun Jakarta telah di bawah kuasa Belanda, sebagai Makassar telah terpisah dari Goa, namun Banten masih bebas dan berdaulat. Agama Islam di Banten pun jauh lebih tua daripada di Makassar dan jauh lebih mendalam. Orang-orang Alim dari luar negeri, sebagai dari Mekkah, Turki dan Mesir lebih banyak datang.

Sultan Ageng sendiri pun besar perhatiannya kepada agama Islam itu dan sangat tertarik kepada Tasawuf. Maka tidaklah heran jika Syekh Yusuf sangat dihormati dan disayanginya. Sebab jarang Ulama yang sebesar itu dan seluas itu pengetahuan dan pandangan hidupnya. Demikian rapat hubungan mereka, sehingga beliau diambil baginda menjadi menantunya.

Kian lama kian masuklah Syekh Yusuf ke dalam percaturan politik dan agama di Banten. Beliau diangkat menjadi Mufti Kerajaan Banram dan menjadi penasihat pula dalam urusan pemerintahan. Apatah lagi ada pula kelebihan lain yang istimewa pada suku Makassar, dan terdapat pula pada diri beliau, yaitu keahlian dalam peperangan. Pada masa itu jugalah Karaeng Galesong dari Goa datang ke Madura, menjadi menantu pula dari Trunojoyo, yang kemudian memberontak melawan Amangkurat II dari Mataram.

Baginda amat ingin agar Banten menjadi kerajaan besar, menjadi pembela Agama Islam dan penyiarnya. Menentang kekuasaan Belanda dan membendung keinginan mereka menaklukkan seluruh tanah Jawa, sebagaimana yang telah mereka lakukan di Jawa Tengah.

Karena keinginannya agar Banten menjadi sebuah negeri yang maju, diangkatlah putera-mahkota menjadi Sultan Muda, dengan gelar Sultan Abu' n Nashar Abdul Kahar, diberinya kekuasaan lebih luas, dan disuruhnya meluaskan pandangan ke luar negeri, naik haji ke Mekkah, ziarah ke Madinah dan Baitul Maqdis dan terus ke Istambul membuat hubungan yang lebih rapat dengan Sultan Turki (1671).

Gambar Indah Islami - I Am Proud To Be A Muslim
Setelah setahun lebih di luar negeri, Sultan Muda Abdul Kahar, yang sejak itu terkenal dengan sebutan "Sultan Haji" pun pulanglah. Tetapi  sayang, dalam sebentar waktu saja telah kelihatan bahwa sikap dan tindak tanduknya sangat jauh dari apa yang diharapkan oleh ayahnya. Hanya kepalanya yang memakai serban. Hatinya telah jauh lebih condong kepada Belanda. Dia lebih senang bergaul dengan orang kulitputih. Kian lama kian nyata keinginannya hendak mengambil seluruh kekuasaan dari tangan ayahnya. Kata terakhir tetap di tangan ayah. Tetapi sejak Sultan Haji pulang dari Mekkah, kekuasaan atas Banten telah terbagi dua. Sebagian dipegang oleh Suitan Haji, berpusat di ibu kota, dan sebagian lagi dipegang oleh Sulthan Ageng, berpusat di Tirtayasa. Adapun rakyat banyak lebih lekat hatinya kepada Sulthan Tua, karena nyata bahwa si anak mendurhaka. Dan baginda dibantu oleh putera -nya yang kedua Pangeran Purbaya bersama dengan Syekh Yusuf yang telah menjadi keluarga istana, sebab kawin dengan puteri Sultan.

Tidak ada jalan lain bagi Sultan Haji hanyalah mencari sandaran kepada Belanda. Bertambah simpati rakyat kepada ayahnya, bertambah terpencil dia seorang diri, bertambah -pula pengaruh orang-orang besar pengambil muka yang selalu mendorong beginda supaya jauh dari ayah, jauh dari rakyat dan dekat kepada Belanda. Dan bagi Belanda inilah kesempatan yang sebaik-baiknya untuk menghancurleburkan kerajaan besar itu. Kalau ini dilepaskan, payah akan bertemu kesempatan sebagus ini.

Akhirnya terjadilah perang. Sampai dua kali tentara Sultan Ageng dapat mengepung kota Banten dan nyaris Sultan Haji tertawan oleh ayahnya. Pada waktu itulah dia meminta bantuan kepada Belanda di "Batavia", sehingga kepungan itu dapat diusirnya. Bertambah kokohlah kekuatan Belanda atas Sultan Haji, sehingga dia tidak dapat melepaskan diri lagi. Dan bagi Sultan Ageng tidak ada pula lain jalan, melainkan meneruskan perang. Sebab baginda yakin bahwa dia bukan berperang dengan puteranya, melainkan dengan Belanda. Sultan Haji hanya semata-mata dijadikan perisai saja. Demikian besar pengaruh Belanda atas dirinya, sehingga akhirnya Belanda memaksanya mengusir sekalian bangsa kulitputih, (Inggris, Prancis, Denmark dan Portugis), selain Belanda yang ads di Banten. Bantuan lasykar Belanda ditambah dengan satu pasukan, orang Ambon di bawah pimpinan Kapten Yonker. Maka bertemulah tentara Sultan Ageng yang berinti pasukan Makassar di bawah pimpinan Syekh Yusuf sendiri, dengan pasukan Ambon di bawah pimpinan Kapten Yonker. Karena keras desakan dan lengkap alat senjata, tentara baginda terpaksa mengundurkan diri ke Cipontang dan Cisadane. Akhirnya Yonker mengadakan serangan penghabisan yang lebih hebat, sehingga Tirtayasa sendiri, Markas Besar Sultan dapat dikepung. Sebelum tentara itu masuk kota, Sultan telah memerintahkan membakar istananya, sehingga seketika tentara Sultan Haji menarik diri dap tentara Yonker masuk, yang didapatinya hanya abu belaka. Jatuhnya Tirtayasa ialah pada tabun 1682.

Setelah mengundurkan diri lebih ke dalam, masih sempat Sri Sultan meneruskan perjuangan setahun lamanya. Tetapi karena peralatan telah habis, maka setahun kemudian (1683) Sultan pun menyerahkan diri kepada puteranya yang durhaka itu (pada lahir), dan kepada Belanda (pada batin ). Bersama dengan baginda menyerah pulalah Syekh Yusuf, dan tinggallah puteranya Pangeran Purbaya melanjutkan perjuangan. Beliau, Sri Sultan diasingkan ke Jakarta dan hidup di sana memakai gelar Pangeran Suria Tirtayasa, sampai beliau wafat pada tahun 1695, yaitu di zaman Banten diperintah oleh cucunya Pangeran Dipati bin Sultan Haji yang memakai gelar Sultan Abu'1 Mahasin Muhammad Zainal Abidin (1690 - 1733), yang memerintah menggantikan saudaranya Pangeran Ratu, yang diberi gelar Sultan Abu'1 Fadhal Muhammad Yahya (1687 -1690). Jenazah Sultan Tua itu  dibawa ke Banten dan dimakamkan di Tirtayasa.

Adapun Syekh Yusuf, setelah ditangkap bersama Sultan yang dicintainya itu, tidaklah lama ditahan, lalu dibuang pada tahun itu juga ke negeri Ceylon. Karena rupanya Belanda insaf benar bahwa inilah "biangkeladi" sebenarnya dari perlawanan Banten.

Setelah Sultan Tua ditawan dan Syekh Yusuf dibuang, maka pada tahun 1684, Kompeni membuat perjanjian dengan Sultan Haji, bahwasanya Banten tidak boleh berniaga langsung lagi ke Maluku, dan harus melepaskan Cirebon. Artinya dengan naik Sultan Haji, Banten tidak merdeka lagi. Hanya 3 tahun saja kemudian, baginda pun wafat karena tekanan batin yang mendalam [2] yaitu tahun 1687.

[2] Menurut ceritera orang tua-tua di Banten, bila Sultan Tua duduk dengen pengikut -pengikutnya yang setia, kerap beginda berkata: "Itu bukanlah anakku si Kahar! Si Kahar anakku telah lama mati. Yang kita kadapi sekarang bukan si Kahar,tetapi Belanda,” Perkataan iba-hati yang demikian, diklaims oleh orang Banten menjadi kepercayaan. Sehingga orang tua-tua di Banten yakin benar bahwa yang berperang dengam Sultan Ageng itu bukanlah Sultan Haji putranya, sebab dia telah mati di Mekkah! Yang menjadi "Sultan Haji” itu ialah seorang Belanda yang persis rupanya dengan Sultan Haji. Perkataan dan kepercayaan demikian boleh disebut "dongeng", tetapi itulah keadaan yang sebenarnya! Sebagai juga dongeng "Perang Paderi atau Perang Aceh" bahwa Belanda menembakkan meriam berpelurukan uang ringgit kepada parit pertahanan mereka. Maka adalah orang yang meruntuhkan sendiri parit-rantangnya itu, karena hendak mengambil ringgit. Itu pun adalah "dongeng", tetapi dongeng yang benar. Fahamkanlah! Bangsa Indonesia memang pandai memilih kata-kata yang simbolis.

Share this

Averousy uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More info

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Averousy

Promoted Link: Nasyid Sponsored By: Gratis Template By: Habib