Kegagalan Maulana Muhammad Menaklukkan Palembang

Setelah Maulana Muhammad, Kanjeng Ratu Banten mencapai usia dewasa, dipegangnya sendirilah pemerintahan Banten. Tetapi keadaan di Indonesia ketika itu telah jauh perbedaan dari zaman lampau. Agama Islam berkembang dengan pesatnya di seluruh Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam sebagai pendukung kemajuan Islam telah berdiri dengan megahnya. Pendeknya seluruh abad keenambelas itu, dalam sejarah Islam di Indonesia boleh disebut abad perkembangan Islam. Mataram dirajai oleh pahlawan besar Senapati. Aceh telah mengembangkan kuasanya. Meskipun Portugis dengan kefanatikan Agama Katholik yang sangat keras mencoba hendak mengalahkan Islam, sambil menghisap kekayaan anak-negeri namun dengan adanya Mataram di Jawa Tengah, Banten di Jawa Barat, Aceh di Sumatera, dapatlah perluasan Portugis, dibatasi. Di bagian Maluku Portugis berhadapan dengan tiga Kerajaan Islam, yaitu Ternate, Bacan dan Tidore.

Gambar Pelabuhan Palembang Tempo Dulu - Kegagalan Maulana Muhammad Menaklukkan Palembang

Tetapi di akhir abad keenambelas, menjelang abad ketujuhbelas, Belanda pula yang telah mendapat jalan ke "Hindu”. Cornelis de Houtman telah melabuhkan kapal-kapal dagangnya di pelabuhan Banten (1596). Tetapi Houtman yang congkak dan sombong itu, menemui ajalnya seketika dia hendak mencobakan kesombongannya di Aceh. Rencong menembus perutnya.

Ratu Banten ingin hendak menaklukkan Palembang. Palembang ketika itu diperintah oleh bangsawan-bangsawan keturunan Demak, yang menyingkirkan diri ke Palembang seketika Pajang mengalahkan Demak. Gedeng Sura dipandang sebagai nenek-moyang daripada sultan-sultan Palembang, yang akan datang kemudian.

Tanah Palembang kaya dengan hasil bumi, terutama lada. Dan apabila Banten dapat menaklukkan Palembang Maulana Muhammad berfikir, terpeganglah dalam tangannya kunci-kunci Selat Malaka. Dan kemudian Sumatera bagian Selatan dan Sumatera bagian Tengah, akan dapat pula di bawah kuasa baginda. Tentu saja Islam akan dapat disiarkan kepada suku-suku di Sumatera, yang belum memeluk Islam, yaitu Komering, Pasemah dan Rejang.

Niscayalah Bangka dan Beliton pun jatuh ke bawah kuasa Banten. Baginda belum mengira apa kelak yang akan terjadi dengan kapal-kapal Belanda yang telah pernah berlabuh di pelabuhan Banten itu. Beliau belum membayangkan apa yang akan terjadi di belakang hari. Sedang di negeri Belanda, meskipun perjalanan Houtman gagal yang bermula dan sedikit mendapat hasil, maka di tahun 1602 "Oost Indische Compani" telah didirikan orang di negeri Belanda yang jadi tekad baginda hanya satu. Palembang ditaklukkan!.

Maka beliau susunlah sebuah armada, dan beliau sendiri yang memimpin armada itu hendak menaklukkan Palembang, (1605). Kata setengah riwayat, dua kali Banten menyerang Palembang!

Maka penuhlah sungai Musi yang bersejarah itu dengan perahu-perahu besar, yang akan menentukan nasib Palembang. Tetapi meskipun Palembang di kala itu belum sekuat Banten, namun hati Rajanya dan penduduknya, kuat dan teguh mempertahankan kehormatannya. Dari segi agama mereka memandang, bahwa serangan Ratu Banten tidaklah pantas, sebab mereka pun orang Islam. Keturunan cikal-bakal pun boleh dikatakan sama yaitu sama-sama dari Demak. Maka bersiaplah Palembang mempertahankan diri, dan dahsyatlah serangan Banten. Nyarislah jatuh kota Palembang, saking dahsyatnya serangan. Dan Kanjeng Ratu Banten, Maulana Muhammad pun memimpin peperangan itu dengan gagah perkasanya. Baginda berdiri di atas buritan perahu besar memegang komando daripada 199 perahu yang lain, dengan tempik soraknya hendak menghancurleburkan pertahanan Palembang.

Malang!

Telah hampir terdesaklah Palembang, dan nyarislah mereka menyerah kalah, dan sudah melayang-layanglah dalam fikiran orang besar-besar, rasa putus asa dan menyerah.

Malang! - Demikian melihat bahwa angkatan perang Baginda telah naik semangat perjuangan yang hebat itu, disertai tempik sorak dan bangkai orang-orang yang kena peluru bergelimpangan di darat dan dalam perahu-perahu, dan sorak sorai orang yang bertahanpun sudah hampir senyap, dikalahkan sorak yang menyerang, baginda pun telah mulai hendak memerintahkan supaya perahu rapat ke tepi, dan baginda sendiri telah bersiap dengan keris terhunus hendak mendarat, tiba-tiba di antara beratus-ratus bedil yang meletus dari tepi, melayang pelurunya ke atas perahu kenaikan baginda. Dengan tidak tersangka-sangka sedikit juga, baginda pun rehab terbaring. ”Aku iuka!"

Melihat Maulana Sultan telah jatuh, orang besar-besar dan pahlawan-pahlawan perang yang ada di sekeliling baginda, terhentilah meneruskan peperangan. Darah telah membusa dari dada beliau, tepat benar kenanya!

Maka senyaplah bunyi bedil. Terhentilah orang yang di perahu menyerang ke luar, dan terhenti pula orang yang di luar menembakkan bedilnya ke perahu. Suasana dalam sebentar waktu saja pun bertukar, daripada dahsyat perang kepada kesepian berkabung. Sudah teradat bagi satria-satria suku-suku bangsa Indonesia, menghormati pahlawan dan menjadi semangat satria, walaupun musuh! Orang Palembang yang tadinya telah terdesak itu tidak meneruskan perangnya lagi. Merekapun turut menghormati dan merasakan sedih atas kematian pahlawan dan sultan yang perkasa lagi muda itu.

Dengan berangsur-angsur pahlawan-pahlawan Banten yang tinggal, mengundurkan perahunya dari Sungai Musi, kembali ke lautan lepas dan pulang ke Banten membawa jenazah Maulana Sultan yang dicintai itu, lalu dimakamkan dekat neneknya di "Sabakingking", dalam usia 35 tahun! (1605).

Kesedihan yang pertama bagi Banten.

Kita katakan yang pertama, karena akan banyak lagi kesedihan lain yang akan menimpa. Nama "Sabakingking", artinya bumi yang penuh dengan dukacita, sudah selayaknya diberikan bagi seluruh Banten, bukan saja bagi tanah pekuburan raja-rajanya.

Sebab, setelah Maulana Muhammad, yang kadang-kadang diberi gelar Penembahan, atau Kanjeng Ratu Sultan, hanya meninggalkan seorang putera yang masih kecil, usia lima bulan, yaitu Abul Mafakhir.

Maka terpaksalah sebelum baginda dewasa, Kerajaan dipegang oleh Mangkubumi Jayanegara, dan kelak digantikan oleh Pangeran Aria Ranamanggala.

Mangkubumi Ranamanggala inilah yang akan menghadapi siasat licik dan kejam dari Pieter Both, gubernur jenderal Kompeni Belanda yang pertama telah mulai menancapkan kakinya di Jakarta (1609).

Share this

Averousy uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More info

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Averousy

Promoted Link: Nasyid Sponsored By: Gratis Template By: Habib